Welcome to our online store

Masa Sila Era Perserikatan

Djajang Nurdjaman Kala Berhasil Membawa Persib Juara Perserikatan Tahun 1986




hai guys ... selamat malam tentunya , apa kabar ? Saya haraf kalian selalu di karuniai kesehatan dan selalu ada dalam lindungan Tuhan
Saya disini tidak mau terlalu lama basa-basi untuk sebuah testimoni, karena pada dasarnya basic saya bukanlah orang yang terlalu suka untuk basa-basi (intinya saya tidak terlalu pintar bermain dengan kata-kata) ...

oke guys untuk postingan kali ini saya masih ingin banyak bercerita tentang Persib Bandung. Dan kali ini saya juga masih ingin mengajak anda untuk kembali ke masa lampau ketika Persib memulai perjalanan panjangnya.

mungkin sebagian kecil dari kalian belum tau tentang history pangeran biru di masa silam, yaaa .. kenapa saya bisa bicara sebagian kecil, karena biasanya sebagian orang hanya tau Persib dari nama besarnya saja atau hanya tau Persib di masa sekarang tanpa tau Bagaimana kisah kelam yang pernah terjadi pada Persib.

Saya akan mulai dari tahun 1937,Ketika kompetisi reguler yang sudah dirintis jauh-jauh hari itu akhirnya terlaksana. Kompetisi Perserikatan pertama digelar di Solo dan Persib kala itu tercatat tampil sebagai Juara.  Tonggak sejarah emas itu ditorehkan Persib setelah menghancurkan raksasa sepak bola Indonesia ketika itu, Persis Solo dengan skor 2-1 di Stadion Sriwedari, Solo. Berdasarkan sejumlah catatan yang saya temukan, sejumlah nama pemain yang memperkuat Persib di partai tersebut antara lain Enang Durasid, Komar, Jasin, Arifin, Kucid, Edang, Ibrahim Iskandar, Saban, Sugondo, dan Ahhhh entahlah saya lupa ... , Ada yang tau mereka ? saya pikir hanya sebagian kecil saja,karena saya pun tidak tahu dan untuk wajahnya pun tidak pernah terggambar di benak saya. Jelas karena itu bukan era saya  ...

Memasuki dekade 40-an, situasi politik dalam negeri ketika itu banyak mengganggu jalannya Kompetisi Perserikatan. Apalagi, pemerintahan kolonial Jepang memboikot seluruh perkumpulan sepak bola yang ada di tanah air, termasuk PSSI.Selang Setelah Indonesia Merdeka, Pada 17 Agustus 1945, kompetisi belum juga bisa digulirkan, karena pemerintah kolonial Belanda kembali masuk ke Indonesia dengan mendompleng tentara sekutu (NICA).
padahal udah merdeka tapi masih aja balik ke indonesia, saya rasa dulu belanda susah moveon kali yaaa hahaha...
Dan Pada dekade itu, Kompetisi Perserikatan hanya bisa digelar lima kali yaitu pada tahun 1941, 1942, 1943, 1948 dan 1950.Berhubung saya tidak terlau kepo pada materi ini , jadi jangan tanya siapa aja yang juaranya ya :D
skip ke dekade 50-an, prestasi Persib tidak begitu mencuat. Karena gagal bersaing dengan Persija (dulu aroma Rivalitasnya belum kaya sekarang guys) .

Next,Pada tahun 1951, Persib gagal lolos ke putaran final. Setelah hanya mampu menempati peringkat ketiga pada tahun 1952 di Surabaya, 1954 di Jakarta dan 1957 di Padang, Persib mulai menggeliat pada tahun 1959. Sialnya, kesempatan untuk meraih gelar juara kembali hilang ketika pada pertandingan terakhir dikalahkan PSM Makassar 1-2 di Lapangan Ikada, Jakarta.

Penantian panjang Persib untuk kembali menjuarai Kompetisi Perserikatan berakhir pada tahun 1961. Berbeda dengan musim sebelumnya, kali ini Persib memenangkan persaingan dengan PSM.
Namun Setelah itu, prestasi Persib kembali melorot dan gagal mempertahankan gelar pada Kompetisi Perserikatan 1964 dan 1965 di Jakarta. Setahun berikutnya, Persib harus puas menjadi runner up, karena harus kembali mengakui keunggulan PSM Makassar di Jakarta. Begitu juga pada tahun 1967, ketika PSMS tampil sebagai juara dengan menyisihkan Persebaya Surabaya.

Memasuki dekade 1970-an, catatan paling kelam harus dialami Persib. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, praktis tidak ada prestasi membanggakan yang diraih. Pada tahun 1971, Persib kalah bersaing dengan PSMS Medan yang akhirnya tampil sebagai juara Dan Persebaya Surabaya (runner-up).Dua tahun kemudian di Jakarta, Persib hanya mengakhiri kompetisi di peringkat ketujuh dari delapan kontestan dengan rekor sekali menang,Namun Kegagalan Persib sedikit terobati ketika salah seorang bintang muda Persib, Risnandar Soendoro dinobatkan sebagai pemain terbaik Kompetisi Perserikatan 1973.
Pada Kompetisi Perserikatan 1975, Persib benar-benar kehilangan tempat di jajaran elit sepak bola nasional inilah masa kelam pangeran biru. Saat itu, Prestasi Persib kembali meningkat pada musim 1975-1978. Setelah menjuarai babak kualifikasi Grup B di Stadion Siliwangi Bandung dan Stadion Bima Cirebon, Persib lolos ke putaran final. Pada babak kualifikasi ini, Persib mencatat rekor tak terkalahkan dan tak pernah kebobolan dalam empat partai yang dimainkannya.Namun, pada putaran final yang digelar di Jakarta, Persib harus mengubur impiannya lolos ke semi final.

Sial buat Persib, mulai tahun 1979, PSSI mulai menerapkan pembagian divisi buat tim-tim perserikatan yang mengharuskan sistem promosi dan degradasi diberlakukan. Ketika itu PSSI menetapkan, Divisi Utama Perserikatan hanya dihuni 5 tim dan tiga tim terbawah di putaran final kompetisi 1978 harus terdegradasi ke Divisi I. Karena hanya menempati peringkat ketiga Grup G, Persib harus menghadapi peringkat ketiga Grup F, Persiraja Banda Aceh untuk mencari tim ketiga yang terlempar ke Divisi I. Dua tim yang otomotis terdegradasi adalah tim juru kunci Grup F PSBI Blitar dan Grup G Persipura Jayapura. Pada partai play-off ini, Persib menyerah 1-2 dari Persiraja yang memaksanya bertarung dari “kampung ke kampung” pada musim kompetisi berikutnya.

Pada musim berikutnya, pengurus Persib melakukan terobosan dengan mendatangkan pelatih asal Polandia, Marek Janota. Ketika itu, Marek diberi tugas untuk membina para pemain muda Persib secara berkesinambungan. Kelak, pemain-pemain tersebut akan menjadi tulang punggung Persib senior. Sementara itu, tim Persib senior yang dipimpin Manajer H.M. Ruchiyat dan pelatih Risnandar serta dibantu dua sistennya, Wowo Sunaryo dan Suhendar terus berusaha bangkit.

Di dekade 1980 Persib akhirnya kembali ke Divisi Utama bersama PSIS Semarang, Persema Malang dan PSP Padang untuk melengkapi 6 tim lain di Divisi Utama yaitu Persija Jakarta, PSMS Medan, Persipura Jayapura, PSM Makassar, Persebaya Surabaya dan Persiraja Banda Aceh.

Setelah kembali ke Divisi Utama pada Kompetisi Perserikatan 1983, Persib langsung unjuk gigi.Namun Persib kembali harus berduka karena kembali menyerah 1-2 dalam duel adu penalti dengan PSMS. Dalam waktu normal dan perpanjangan waktu, Persib dan PSMS bermain imbang 2-2 dalam partai final yang disaksikan sekitar 150.000 penonton yang memadati Stadion Utama Senayan.

Dua kegagalan pada musim 1982/1983 dan 1983/1984, tidak membuat Persib patah arang. Pada tahun 1986, Adeng Hudaya dan kawan-kawan akhirnya bisa membumikan Piala Presiden di Bandung setelah di final mengalahkan Perseman Manokwari 1-0 lewat gol tunggal Djadjang Nurdjaman.
Para pemain yang sukses mengakhiri penantian panjang Persib selama seperempat abad itu sebagian besar merupakan hasil binaan Marek Janota. Ketika itu skuad Persib dihuni Sobur, Boyke Adam, Wawan Hermawan (penjaga gawang), Wawan Karnawan, Ade Mulyono, Suryamin, Ujang Mulyana, Sarjono, Adeng Hudaya, Robby Darwis, Yoce Roni, Kornelis, Ajid Hermawan, Ajat Sudradjat, Yana Rodiana, Sam Triawan, Iwan Sunarya, Dede Rosadi, Djadjang Nurdjaman, Bambang Sukowiyono, Suhendar, Kosasih dan Djafar Sidik. Pemain-pemain berbakat itu ditangani pelatih Nandar Iskandar.

Pada musim berikutnya, 1987/1988, Persib mencatat hasil serupa. Ketika itu, Persib kalah bersaing dengan Persebaya yang akhirnya tampil sebagai juara dan Persija. Namun, pada musim 1989/1990, Persib kembali unjuk gigi. Di bawah besutan pelatih Ade Dana dan dua asistennya Dede Rusli dan Indra M. Thohir, Persib tampil sebagai kampiun setelah pada babak grandfinal di Stadion Utama Senayan mengalahkan PSM Makassar 2-0 lewat gol bunuh diri Subangkit dan Dede Rosadi.

Sedikitnya itulah perjalan panjang Persib di Era perserikatan, Bagaikan sebuah roda yang berputar Prestasi Persib memang penuh cerita dengan aktor-aktor yang berbeda ,Adakalnya prestasi Persib melejit hingga setinggi langit Namun ada juga fase dimana Persib harus jatuh dan Berusaha untuk kembali Bangkit.
tak ada yang harus disalahkan ketika Persib begitu kelam karena itu bagian dari Pembelajaran untuk sebuah perjuangan di musim mendatang, Karena bagi saya semua semua yang pernah berjuang untuk Persib semua pahlawan dan tak pernah ada yang namanya Pecundang. Meskipun prestasinya tak bisa dibilang membanggakan.
Terlepas dari semua itu Terima kasih Banyak atas semua dedikasi yang pernah kalian (Semua official,pemain dan bobotoh) tumpahkan untuk satu nama (PERSIB Bandung) kalian adalah sejarah yang takan pernah saya lupakan.

Dan berkat semua sejarah yang pernah kalian buat , di hari ini saya bisa mengenang dan sedikit membagikan apa yang pernah kalian ukir di masa silam.
terima kasih para pejuang...



Terima kasih telah berkunjung ... maaf bila ada catatan yang salah atau tidak sesuai (mohon koreksi) dan maaf bila ada kata yang kurang berkenan.

jangan lupa di share ...
Selamat Bermimpi indah ...

Related Product :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. THOO GBLOG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger